tampilan depan gedung PLBN Skouw

Liburan dulu: Mengunjungi Perbatasan Indonesia Papua-Nugini

posted in: Travel | 0

Pada bulan November 2018 lalu saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Jayapura, Papua selama beberapa hari untuk urusan kantor. Alhamdulillah ternyata pekerjaan saya disana bisa selesai lebih cepat dari yang diperkirakan sehingga saya masih ada waktu luang di hari terakhir sebelum besoknya kembali ke Jakarta. Spare waktu tersebut akhirnya saya dan tim manfaatkan untuk berkunjung ke perbatasan Indonesia Papua Nugini dan melihat secara langsung Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw. Rasanya sayang kalau tidak disempatkan mampir ke PLBN Skouw yang secara jarak hanya 60 Km dari Jayapura.

Sebagai informasi, PLBN Skouw berlokasi di Distrik Muaratami, Kota Jayapura. PLBN ini mulai direnovasi dan dibangun oleh pemerintah dengan fasilitas yang lebih baik pada tahun 2015 (sumber: detik.com). Seperti PLBN lainnya di Indonesia, sebelum direnovasi PLBN katanya kondisinya lebih memprihatinkan dibandingkan pos milik negara tetangga. Nah ternyata setelah selesai dibangun dan direnovasi serta diresmikan pada Mei 2017, kondisi PLBN Skouw ini menjadi jauh lebih baik dan menjadi salah satu tujuan wisata bagi daerah setempat.

peta perbatasan Indonesia-Papua Nugini
peta perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Persiapan Berangkat

Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan, jam 11 siang kami mulai mempersiapkan keberangkatan ke PLBN Skouw. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, antara lain mencari kendaraan yang akan digunakan ke sana. Dari informasi yang saya peroleh, satu-satunya moda transportasi yang bisa digunakan oleh wisatawan adalah menggunakan kendaraan pribadi. Kami menyewa kendaraan di rental mobil yang mudah ditemukan di daerah tempat saya menginap, yaitu di sekitar Sentani. Untuk biaya penyewaannya bervariasi, tapi pada waktu itu rental yang direkomendasikan ke kami oleh kolega kerja di sana harga sewanya adalah 650.000 rupiah untuk seharian sudah termasuk supir dan bensin. Kami memilih untuk menggunakan jasa supir lokal karena mereka lebih tau kondisi jalan dan adat setempat. Saya pribadi agak khawatir juga kalau ada apa-apa di perjalanan yang jaraknya lumayan jauh. Selain itu, setau saya ada adat warga setempat yang perlu kita hormati bersama.

Baiklah, setelah memperoleh kendaraan yang akan digunakan, kami langsung menuju ke perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Oh iya, buat teman-teman yang mau mencoba berkunjung juga, saran saya makan dulu atau bawa bekal makanan dan minuman karena jarak yang lumayan jauh. Selain itu, sepanjang perjalanan tidak banyak rumah makan atau warung. Pastikan juga mobil dalam kondisi baik, sudah diisi bensinnya karena seingat saya tidak ada pom bensin kalau sudah berada di luar kota Jayapura.

Sebagai tambahan, secara umum wilayah Jayapura dan sekitarnya, termasuk PLBN Skouw aman dari gangguan kelompok separatis. Untuk lebih memastikan, tidak ada salahnya sebelum berangkat tanyakan ke warga lokal atau supir rentalnya. Kebetulan waktu itu kami juga sempat khawatir karena kami berkunjung pada waktu Organisasi Papua Merdeka (OPM) akan merayakan ulang tahunnya. Tapi ternyata, setelah kami bertanya kepada warga dan supir rental mereka meyakinkan bahwa perjalanan ke perbatasan aman dilakukan.

Border Post of Indonesia
Border Post of Indonesia

Perjalanan ke Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Perjalanan dari Jayapura ke PLBN Skouw menurut saya nyaman karena tidak ditemukan kemacetan sepanjang perjalanan. Kepadatan lalu lintasnya hanya ada di daerah Kota Jayapura dan setelah berada di luar kota sudah lancar jalannya. Kondisi jalannya juga mulus dan lebar sehingga mobil bisa melaju dengan kencang. Sepanjang perjalanan pemandangan didominasi hutan dan tidak banyak warga lokal. Selama perjalanan, kami melewati beberapa perkampungan transmigran yang warganya merupakan pendatang dan bukan warga asli Papua. Alhamdulillah, perjalanan kami menuju ke PLBN Skouw berjalan dengan lancar dan berhasil kami tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 45 menit.

Pos Pamtas TNI
Pos Pamtas TNI

Tiba di Perbatasan Indonesia Papua-Nugini

Pada saat sampai di area PLBN Skouw, mobil kami terlebih dahulu harus melewati pos pengamanan perbatasan TNI dan setelahnya diparkir sebelum gerbang perbatasannya. Kesan pertama saya terhadap PLBN Skouw adalah memang PLBN ini dibangun dengan luar biasa bagus dan dengan fasilitas lengkap. Satu hal yang membuat bangga adalah area perbatasan di sisi Indonesia jauh lebih rapi, bersih, dan mewah dibandingkan milik negara tetangga, yaitu Papua Nugini. Rasanya bangga sekali bahwa negara kita mampu tampil lebih baik di bandingkan negara tetangga dan mencerminkan kebesaran bangsa Indonesia.

penulis di depan gedung PLBN Skouw
penulis di depan gedung PLBN Skouw

Pos perbatasan Skouw ini ramai sekali didatangi orang. Sepengamatan saya, dari turis-turis yang datang berkunjung, sebagian besarnya berasal dari luar Papua. Sementara itu, kebanyakan warga suku Papua asli yang datang ke PLBN Skouw untuk melakukan aktivitas perdagangan. Uniknya adalah kita tidak bisa membedakan mana warga Papua Indonesia dan mana warga Papua Nugini karena mereka terlihat sangat mirip. Banyak warga Papua Nugini datang ke PLBN Skouw ini untuk berbelanja barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti mie instan dan sembako di pasar yang berlokasi di area PLBN. Mereka datang berkelompok naik mobil dan membeli barang dalam jumlah besar. Perkiraan saya mungkin sebagian untuk dijual lagi di desa asal mereka. Sebaliknya, yang saya lihat di sisi Papua Nugini jauh lebih sepi. Pos perbatasan mereka juga fasilitasnya tidak selengkap PLBN Skouw dan tidak ada pasar. Ternyata PLBN Skouw ini bisa membawa dampak positif bagi perekonomian warga Indonesia di sekitarnya.

Menyeberang ke Wilayah Papua Nugini

PLBN Skouw ini tidak dibuka 24 jam, melainkan hanya buka sampai jam 4 sore. Jadi, pada pukul 15.30 sudah ada petugas yang mengumumkan bahwa perbatasan akan ditutup dan warga diminta kembali ke wilayah negaranya masing-masing. Sebagai informasi, warga Indonesia dan Papua Nugini diizinkan untuk menyeberang ke wilayah negara tetangganya sampai sebatas area pos perbatasan tanpa paspor dan visa. Tadinya kami sempat ragu mau menyeberang ke wilayah Papua Nugini karena ada pengumuman bahwa melintasi perbatasan tidak boleh lagi tanpa paspor. Untungnya, pada saat menunggu ternyata ada warga Indonesia yang tinggal di Papua sedang mengantar tamu mereka melintas ke wilayah Papua Nugini. Jadinya, kami bergabung dengan mereka menyeberang ke wilayah Papua Nugini. Satu hal yang unik adalah, sesampainya di wilayah Papua Nugini, seluruh toko suvenir dan jajanan justru hanya menerima uang Rupiah. Saat teman saya mencoba menukar uang rupiah dengan uang kina Papua Nugini sebagai suvenir, mereka justru tidak punya.

Penulis saat menyeberang ke wilayah Papua Nugini
Penulis saat menyeberang ke wilayah Papua Nugini

Sekian pengalaman saya berkunjung ke perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Semoga menginspirasi. Baca jugaTreasure Bay Bintan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *